Monday, February 16, 2015

TIPS MENGHADAPI KEGAGALAN



TIPS MENGHADAPI KEGAGALAN

Sadar nggak yang namanya manusia pasti pernah mengalami kegagalan, baik itu gagal di pekerjaan, ujian atau bahkan dalam kehidupan asmara. Tapi sayangnya kita susah untuk mengakui kegagalan, apalagi menghadapinya, bisa bikin stress! Patah arang, putus asa, atau sebagainya, pada hal ada yang bilang kegagalan awal dari sebuah keberhasilan.
Berpijak dari kenyataan di atas, ada beberapa tips untuk menghadapi kegagalan yang kita hadapi dan kita alami, antara lain :
1.      Positif Thinking
Percaya deh...... bahwa kegagalan saat itu adalah hal yang terbaik untuk kita, siapa tahu jika saat itu kita berhasil justru akan membuat kita  sombong, karena belum  siap untuk menerimanya, mungkin inilah yang terbaik untuk kita.
2.      Instropeksi Diri
Biasanya orang yang gagal akan mencari kambing hitam untuk menutupi rasa malu atas kegagalannya, kalau kita instropeksi diri justru akan memperbaiki hal-hal yang kurang dari diri kita. Pengalaman adalah guru yang terbaik, mengapa kita tidak belajar dari pengalaman?
3.      Ambil Hikmah
Belajarlah untuk menerima kenyataan yang ada, agaknya susah untuk kita menerima kenyataan yang kita hadapi, seperti kegagalan, tapi cobalah untuk kita mencari sisi posotif yang dapat kita ambil dan kegagalan itu, yakni kalau hikmah itu pasti ada.
4.      Jangan dipendam Dalam Hati
Curhat dengan siapa aja dapat membantu memecahkan masalah, jangan dipendam dalam hati, sebab hal itu akan terus berkelanjutan, bisa juga menjadikan kita stress, ya....ngak?
5.      Berdoa
Garis Vertikal yang tidak dapat kita pisahkan dari kehidupan ini adalah hubungan kita dengan Sang Pencipta, mengapa tidak minta dari-Nya...?
Bukankah Dia Maha Mendengar, Maha Pengasih, dan Maha Penyayang?
6.      Menghibur Diri
JJS alias Jalan-Jalan Sore, Olahraga, Mejeng Bareng Temen-Temen, atau mungkin nonton film yang lucu, untuk sementara waktu dapat mengobati perasaan kamu-kamu, dan siapa tahu justru dapat ngelupain problem yang lagi kamu hadapi.
7.      Wake Up
Seperti roda yang berputar yang selalu silih berganti, dan bukankah di hari esok matahari akan bersinar lagi untuk membuka lembaran kehidupan yang baru. Anggap saja kamu sedang bermimpi malam ini dan kamu harus bangun untuk menyudahinya.

Continue reading TIPS MENGHADAPI KEGAGALAN

Lempar Cakram

Lempar Cakram

2.4 Pengetian Lempar Cakram
Lempar Cakram adalah suatu nomor yang terdapat dalam Olahraga Atletik yang menggunakan alat tipis seperti piring dengan cara melempar sejauh-jauhnya (PASI, 2004:143), selain itu nomor lempar cakram mempunyai dua gaya yaitu gaya menyamping dan gaya membelakangi.
Dalam kaitannya dengan cabang olahraga atletik, lempar cakram merupakan nomor yang sangat penting artinya bagi perkembangan olahraga tersebut. Hal ini sesuai dengan pendapat Jonath (l988:l11) yang menjelaskan:
Pada semua olimpiade sejak 708 sebelum masehi, lempar cakram merupakan bagian dari panca lomba (pentathlon). Pada permulaannya, cakram terbuat dari batu terupan halus, dan kemudian dari perunggu yang dicor dan ditempa, yang mereka lempar dengan alat lempar seperti itu agaknya ialah para nelayan yang membuat batu gepeng dengan lemparan tertentu yang barkali-kali dapat memantul-mantul di atas permukaan air.
Suatu parmainan yang semua kita kenal, kemudian dilakukan lemparan dari sikap badan menyiku secara khusus dengan badan agak bersandar ke depan. Betapa kecil persamaan lampar cakram pada olimpiade modern pertama di Athena tahun 1896 dengan olahraga unggulan yang sekarang. Seorang atlet Amerika yang barnama Garret, beberapa tahun sebelum olimpiade dimulai, memutuskan untuk ikut serta dalam cakram. Sebab kalau tidak, Amerika tidak ada wakilnya dalam nomor lempar cakram. Meskipun Garret pada waktu itu tidak mengenal gaya Yunani atau gaya antik yang biasa digunakan, ia membuat rekor dunia dengan lemparan 29,15 mater dan mendapat medali emas. Sejak itu bahan yang lebih baik dan latihan atletik dengan spesialisasi yang khusus, telah berhasil memperbaiki rekor dunia sementara ini mencapai lemparan sejauh 71,87 meter oleh Jury Dumsjev dari Uni Soviet.
Pada permulaan abad ke-20 ini orang-orang Amerika, Finlandia dan Swedia mencari teknik lempar yang paling efesien. Uraian tekniknya dari tahun 1925 mamperlihatkan bahwa pada waktu itu juga sudah diketahui unsur-unsur teknik lempar cakram modern. Jonath (l988:l1l) mengatakan bahwa :
Bagian pertama putarannya dilakukan dengan pelan dalam pada itu cakram tetap ada di belakang badan, dan tubuh agak dibungkukkan ke depan. Pada bagian putaran ke dua kecepatan putarannya dipertinggi dengan menggunakan tungkai kanan sampai pada lemparan yang harus mempunyai sifat ekplosif, perubahan putaran yang dulu masih terdiri atas langkah putaran, akhirnya pada sikap permulaan lemparan pada satu atau dua tungkai, loncat keliling yang mengikutinya. Bersama lemparan tanpa tumpuan, itu merupakan variasi yang paling dikenal dalam teknik lempar.
Lebih lanjut Jonath (l988:112) menjelaskan tentang persyaratan bagi atlet pelempar cakram dalam meningkatkan prestasinya:
Terutama atlet yang tinggi dengan tenaga badan yang kuat, banyak kecepatan, daya koordinasi dan rasa keseimbangan yang baik, cocok untuk nomor lempar cakram. Juga lengan yang panjang dan bahu yang bidang (dengan lempar rentangan yang besar) sangat menguntungkan dalammencapai prestasi lempar cakram”.
2.5 Gaya Lempar Cakram
2.5.1 Gaya Menyamping
            Gaya menyamping adalah garakan melempar dengan setengah lemparan dan melempar dengan menyamping arah lempar (sektor), pelempar memulai dengan menyamping arah lemparan, menggunakan metode yang sama dengan yang digunakan sebelumnya untuk mengontrol cakram. Footwork merupakan lemparan berputar dengan menyamping arah lemparan.
Gaya menyamping ini pada umumnya digunakan oleh para atlet pemula dan juga para  pelajar, karena gaya menyamping ini mudah dilakukan dibandingkan dengan gaya membelakangi sehingga akan mudah untuk dilakukan dan diajarkan kepada para siswa. Kelebihan dari gaya menyamping ini mudah dilakukan oleh para atlet, para siswa. Kekurangannya adalah dalam hasil lemparan tidak jauh di bandingkan dengan gaya membelakangi.                  
2.5.2 Gaya Membelakangi
            Gaya Membelakangi adalah gerakan melempar cakram dengan cara membelakanggi arah lempar cakram (Sektor), memutar badan dengan putaran penuh dengan keseimbangan badan kaki kiri sebagai tumpuan akhir. Carr (1997:231) menjelaskan bahwa : ”Atlet memulai dengan membelakangi arah lemparan. Posisi ini menambah putaran hingga 90 derajat”.
Kutipan di atas dapat dijelaskan bahwa atlet mulai melakukan perputaran memindahkan berat badan ke kaki kiri, dan berputar pada jantung kedua telapak kaki hingga kaki kiri mengarah ke arah lemparan. Atlet meneruskan gerakan berputar sambil menggerakakan kaki kanan dan menempatkannya dengan tumit mengarah kearah lemparan. Bagian lemparan lainnya merupakan pengulangan dari lemparan lainnya merupakan pengulangan dari lemparan terdiri dengan langkah mundur.
Gaya membelakangi merupakan suatu gaya yang paling banyak (dominan) digunakan oleh para atlet baik tingkat nasional maupun maupun atlet daerah, selain di lingkungan para atlet gaya ini juga banyak digunakan dalam ruang lingkup pendidikan (formal maupun nonformal) yang merupakan satu gaya untuk menunjang prestasi para siswa.
Adapun kelebihan dari gaya membelakangi ini adalah akan menghasilkan lemparan yang jauh karena saat melakukan lemparan seluruh momentum gerakan tubuh digerakkan sespesifik mungkin pada saat terjadi rotasi pada cakram. Sedangkan kekurangan dari gaya membelakangi ini sangat sulit dilakukan oleh para pelempar karena dalam melakukan gerakan dalam lemparan dengan menggunakan gaya membelakangi ini adanya putaran tubuh yang sangat cepat sehingga sangat sulit dilakukan oleh para atlet pemula, kecuali atlet nasional saja yang mampu melakukan teknik yang benar dalam nomor lempar cakram dengan menggunakan gaya membelakangi.
            Adapun unsur-unsur yang berperan penting dalam nomor lempar cakram antara lain :
  1. Kecapatan (Speed) adalah kemampuan seseorang untuk mengerjakan gerakan berkesinambungan dalam bentuk yang sama dan dalam waktu yang sesingkat mungkin.
  2. Kekuatan (Strehgth) adalah kemampuan seseorang mempergunakan ototnya untuk menerima beban sewaktu bekeraja.
  3. Daya Ledak Otot (Power) adalah kemampuan seseorang untuk mempergunakan kekuatan maksimum yang dikerahkan dalam waktu yang secepatnya.
  4. Kelenturan adalah kemampuan seseorang untuk melakukan mengulurkan tubuhnya sejauh mungkin  ke berbagai arah.
2.6  Dasar-dasar Pengetahuan Latihan Lempar Cakram
            Pengetahuan dasar sangat mendukung di dalam menjalankan program latihan yang bertujuan untuk pencapaian prestasi dalam setiap aktivitas pada setiap cabang olahraga. Dengan dasar pengetahuan yang dimiliki maka dapat diketahui apa yang terjadi dalam melakukan latihan secara tidak sungguh-sungguh baik yang menyangkut dengan organ-organ tubuh maupun terhadap prestasi yang akan dicapai. Dalam setiap cabang olahraga membutuhkan berbagai disiplin ilmu yang merupakan dasar pengetahuan untuk dapat mengetahui sebab dan akibat yang akan timbul dalam melakukan latihan. Untuk dapat berlatih secara baik maka perlu diperhatikan pedoman umum yang merupakan dasar pengetahuan dalam latihan. Lebih lanjut Soekarman (1987:60) mengatakan tentang pedoman umum dasar pengetahuan dalam latihan yaitu:
1. Kekhususan
2. Tambahan beban (overload principle)
3. Hari berat dan santai
4. Latihan dan kelebihan latihan (over training)
5. Latihan dasar dan pencapaian puncak
6. Kembali asal (reversibility)
            Berdasarkan pendapat di atas, perlu diberi tekanan bahwa latihan itu harus khusus untuk meningkatkan semua unsur yang ikut mendukung tercapainya hasil maksimal sesuai dengan cabang olahraga yang diketahui.
            Latihan merupakan faktor yang sangat essensial dan merupakan dasar pembinaan serta pembentukan atlet, baik yang menyangkut dengan persiapan fisik maupun terhadap pencapaian prestasi. Menurut Bompa (1988:143), menyarankan bahwa:
Bentuk dan susunan latihan yang dapat diklasifikasikan dalam tiga bentuk dasar yaitu:
1. Latihan harus mengembangkan fisik umum.
2.  Latihan harus khusus untuk mengembangkan dan meningkatkan kemampuan biomotor.
3. Latihan harus sesuai dengan cabang olahraga.
Kemampuan jasmani dan pengetahuan dasar latihan merupakan salah satu persyaratan penting untuk mencapai prestasi dalam nomor lempar cakram. Sebab tanpa pengetahuan dan tingkat jasmaninya, mustahil atlet dapat mengikuti latihan dengan sempurna. Nomor lempar cakram merupakan cabang olahraga perorangan, yang membutuhkan rencana atau program yang sifatnya terarah kepada latihan mandiri. Latihan tersebut dimaksudkan untuk mempersiapkan atlet untuk berdikari, karena suasana yang demikian akan dijumpai dalam setiap pertandingan atau perlombaan yang diikutinya.
            Bila memikirkan tentang usaha-usaha mendapatkan prestasi maka tidak terlepas dari interaksi sistem tubuh atau pemanfaatan sarana fisik dengan baik dan sempurna. Hal ini dapat dilakukan, bila pengetahuan dasar tentang latihan dan sarana yang digunakan dalam latihan tersebut yaitu fisik telah dimiliki baik oleh atlet maupun pelatih. Sebab tanpa memiliki pengetahuan yang baik, mustahil peningkatan kemampuan prestasi tubuh dapat dilakukan atau dimanfaatkan. Menurut Harsono (1988:32) bahwa: "Untuk dapat berprestasi dengan baik dalam setiap cabang olahraga, pengetahuan dan pengalaman merupakan masalah yang paling mendasar, seperti pengetahuan di bidang ilmu faal, gizi, mekanika olahraga, psikologi dan sebagainya".
            Berdasarkan permasalahan dan pendapat yang dikemukakan di atas, peranan pengetahuan dalam usaha mencapai prestasi harus benar-benar diperhatikan. Sebab untuk mendapatkan dan untuk mempertahankan prestasi, banyak sekali disiplin ilmu pengetahuan yang ikut mendukung serta tidak dapat dipisah-pisahkan antara satu dengan yang lain.
2.7 Tahapan Dasar Gerak Melempar Cakram
            Setiap cabang olahraga, disamping membutuhkan komponen fisik, teknik memegang peranan yang sangat penting dalam usaha mencapai prestasi. Teknik merupakan rangkuman metode yang dipergunakan dalam melakukan gerakan pada suatu cabang olahraga. Peningkatan prestasi dalam olahraga menuntut adanya perbaikan dan pengembangan unsur teknik untuk mencapai tujuannya. Karena teknik selalu berkembang sesuai dengan tuntutan peningkatan prestasi olahraga, atau terjadi sebaliknya sesuai dengan ditemukan teknik-teknik baru. Menurut Siregar (1992:71) bahwa:
Teknik merupakan pelaksanaan suatu kegiatan secara efektif dan rasional, yang mungkin tercapai hasil-hasil baik di dalam pertandingan maupun latihan. Teknik juga merupakan suatu proses gerakan dan pembuktian dalam praktek dengan sebaik mungkin untuk menyelesaikan tugas pasti dalam suatu cabang olahraga seperti teknik lompat, teknik lempar, bola basket dan bola voli.
            Sesuai dengan pendapat di atas, maka jelas bahwa setiap cabang olahraga diperlukan perbaikan dan peningkatan teknik. Teknik dikatakan baik apabila ditinjau dari segi anatomis, fisiologis, mekanika, biomekanika dan mental, terpenuhi persyaratan secara baik serta dapat diterapkan di dalam praktek. Menurut Hamidsyah (1992:71) bahwa:
Peningkatan prestasi dalam cabang olahraga menuntut adanya perbaikan dan pengembangan unsur teknik secara baik untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Analisa teknik dapat digolongkan baik dan tidak bila ditinjau dari segi anatomis, fisiologis dan mekanika, biomekanika dan mental, sebab teknik berkembang sesuai dengan perkembangan ilmu dan teknologi. 
Lempar cakram merupakan salah satu keterampilan gerak yang mempergunakan tubuh yang sangat kompleks dengan menerapkan beberapa prinsip gaya centrifugal yang di kembangkan sejak fase persiapan, yaitu ayunan mendarat, loncat putar ke arah posisis, dan lemparan. Oleh kerena itu seorang pelempar cakram di tuntut untuk memliki penguasaan teknik dasar yang baik.
Nomor lempar cakram membutuhkan beberapa prinsip yang harus di perhatikan oleh atlet dalam melakukan gerakan melempar. Dalam hal ini Abdoellah yang disadur Trianto (1991:74) mengemukakan sebagai berikut:
1.      Sudut lepas benda yang di lemparkan sekitar 40-45 derajat.
2.      Titik lepas benda yang di lemparkan sejauh-jauhnya dari badan.
3.      Kecepatan awalan sebesar mungkin tidak boleh adanya saat berhenti.
4.      Kekuatan lemparan datang dari belakang badannya, yaitu kekuatan yang berasal sejak dari ujung kaki belakang, punggung, perut, bahu, lengan, pergelangan dan jari-jari.
5.      Tekanan benda yang di lemparkan terhadap udara harus sekecil mungkin.
6.      Gerakan melempar harus dilakukan secara eksplosif dan dinamis.
Dewasa ini teknik lempar cakram telah mengalami beberapa perubahan. Hal ini dimungkinkan untuk mendapatkan teknik lempar yang efesien. Jonath (1988:112) mengemukakan sebagai berikut: “Perubahan dalam puaran yang dulu masih terdiri atas langkah-langkah lemparan. Ini diikuti dengan loncat putaran dengan lemparan pada satu atau dua kaki, dan loncat keliling yang mengikutinya. Bersama dengan lemparan tanpa tumpuan itu merupakan variasi yang paling di kenal dalam tehnik lempar”.
Teknik dasar pada nomor lempar cakram terbagi atas beberapa bagianyaitu :
1.      Teknik memegang cakram.
2.      Persiapan dan pengayunan mendatar.
3.      Loncat putar kearah posisi lempar, dan
4.      Teknik lemparan.
Adapun uraian dari teknik dasar nomor lempar cakram tersebut adalah sebagai berikut:
2.7.1 Cara Memegang Cakram
Memegang merupakan salah satu dari bentuk teknik dasar pada nomor lempar cakram. Cara yang biasa di pergunakan dalam dalam memegang cakram adalah dengan sikap kelima jari-jari tangan agak meregang dari permukaan dan tepi cakram tersebut. Pangkal ruas jari tangan, jari manis dan jari kelingking menahan cakram pada bagian tepi bawah. Sedangkang posisi ibu jari tangan berada dalam posisi yang wajar. Telapak tangan tidak dipaksa untuk mencekung dan tepi cakram bagian atas sedikit bersandar pada pada bagian pergelangan tangan. Posisi cakram seperti ini adalah pada sikap permulaan sebelum mengadakan awalan putaran. Jerver (1986:123) menjelaskan bahwa “Pegangan terhadap cakram ini hendaknya sedemikian rupa, sehingga tidak menimbulkan kesulitan sewaktu akan di lemparkan.”
Posisi cakram tidak akan selalu dalam keadaan tetap, tetapi pada saat-saat tertentu akan mengalami sedikit perubahan sesuai dengan sikap lengan sewakatu diayun-ayunkan pada saat melakukan gerakan pendahuluan yaitu persiapan dan penyusunan mendatar.
Jonath (1988:112): Menjelaskan cara-cara memengang cakram, yaitu sebagai berikut : “Jari-jari dan ibu jari agak terpencar dan terletak pada cakram ruang ibu jari memegang erat pinggiran cakram, dan bila tengah bergantung kebawah, sisi atas cakram terletak pada lengan bawah”. Selanjutnya Jerver (1986:123-124) menjelaskan mengenai teknik memegang cakram sebagai berikut :
Cakram harus diletakkan ditengah telapak tangan dengan jari-jari dan ibu jari yang terbesar, posisi jari-jari tidak boleh menimbulkan kejanggalan. Pinggiran dari cakram hendaknya terletak pada patahan sendi pertama pada keempat jari-jari tangan tersebut.
2.7.2 Persiapan Dan Pengayunan Mendatar
Persiapan dan pengayunan mendatar merupakan salah satu faktor yang penting dalam lempar cakram. Tujuan dari persiapan dan pengayunan mendatar ini dikemukakan oleh Jerver (1986:122) yaitu: “Untuk memperoleh kecepatan melempar yang maksimum”
Gerakan persiapan dan pengayunan mendatar dilakukan dengan cara yaitu seorang pelempar mengambil sikap awal dibelakang lingkaran dengan punggung mengarah kearah sektor lemparan (membelakanggi sektor lemparan) kemudian ia melakukan beberapa kali ayunan pendahuluan untuk membiasakan lengannya dalam keadan seimbang. Tubuh dan lengan lainnya mengikuti gerak pada saat berat badan di pindah ke kaki lain. Apabila cakram telah mencapai titk ayun terjauh dibelakang (tubuh berputar ke belakang), maka gerak berputar dan gerak menyilang lingkaran segera dimulai.
Jonath (1988 :113) menjelaskan sebagai berikut :
Ada dua macam gerak pengayunan mendatar,yang dikenbangkan lebih lanjut secara perorangan: 1) Cakram terletak pada ketinggian pada bahu kiri diatas lengan kiri. Tangan lempar diletakkan diatasnya, dan lengan lempar membuka gerak ayun dengan cakramnya dalam bidang miring kebawah kekanan luar dan ke kanan bawah; 2) Lengan lempar berayun dari gerak didepan badan kepinggul kiri. Dalam pada itu, lengan lempar diputar dengan telapak tangan keatas dari situ lengan lempar dengan cakramnya dalam bidang horizontal kekanan luar dan kekanan belakang.
2.7.3 Loncat Berputar Kearah Posisi Lempar
Loncat berputar kearah posisi lempar merupakan fase yang paling penting dalam nomor lempar cakram karena pada fase ini terjadi perpindahan kecepatan rotasi ke kecepatan linier dimana kecepatan linier ini merupakan hasil kali dari kecepatan rotasi dan panjang jari-jari. Sehingga dengan demikian untuk menghasilkan lemparan yang jauh, maka kecepatan rotasi haris di perbesar
Fase ini di mulai apabila cakram telah mencapai titik ayun terjauh di belakang (tubuh berputar ke kanan). Putaran di mulai dari bagian badan bawah. Kaki berputar membawa lutut berputar dalam satu arah. Pada saat yang sama mulailah gerakan rotasi tubuh yang akan di ikuti oleh lengan dan cakram. Sekarang gerak melintang dimulai, kaki kanan pertama sekali meninggalkan tanah dan kemudian kaki kiri mendorong ke arah lemparan. Sedang kaki kanan sedikit bengkok melengkung dalam lingkaran, dari kanan kekiri dan kedepan. Pada waktu bergerak melintang lingkaran, pinggang bergerak lebih dahulu dari bahu, sehingga terjadilah putaran antara badan bagian atas dan bawah lengan pelempar di ikuti dengan yang lain dengan posisi setengah jongkok dan di lipat kedada setinggi bahu, tetapi si pelempar melihat kepalanya mengarah ketujuan lemparan.
Selanjutnya sebuah dorongan rendah menyilang lingkaran dan pelempar mendarat pada sol kaki kanan, yang di putar kekiri dan lebih kurang di titik pusat lingkaran tersebut, kaki kanan meneruskan gerak pertamanya sedangkan kaki kiri segera datang ke tanah pada saat kaki dan sedikit kekiri garis lemparan. Sampai di sini kedua kaki tetap di bengkok. Namun sejak kaki kiri menyentuh tanah tungkai kiri hampir sepenuhnya di lurus kan senentara itu lutut kanan dan pingang terus berputar cepat kearah lemparan. Menarik badan bagian atas berputar bersama, pada saat ini lengan kiri mulai membuka kesamping dan lengan kanan di ayun dengan cepat dalam lengkungan lebar dan secara bersamaan di tarik sedikit keatas.
Kaki yang mulai mendorong telah sepenuhnya lurus, sedangkan pinggang bergerak kedepan dan tubuh serta bahu menyesuaikan putaran kedepan. Lengan kiri dan bahu menahan dengan kuat, sedangkan lengn yang di cambuk kan melingkar dengan tarikan bahu kanan dan selesainya pelurusan kaki akhirnya kaki di ayun kebelakang dan kakinya berputar satu sama lain dalam rangka tetap menjaga keseimbangan badan dalam lingkaran.
2.7.4 Cara lemparan
Gerakan melempar dilakukan ada saat pelempar menyesuaikan gerakan ayunan pendahuluan, yaitu pada saat cakram mencapai titik ayun terjauh di belakang. Berat badan pelempar berada diatas kaki kanan, tubuh bagian atas serta lengan yang akan melempar berputar kebelakang untuk mempertahankan gerakan tubuh, kaki kiri harus segera menyentuh tanah setelah kaki kanan mendarat. Kaki kiri di letakan sedikit kesamping dengan tujuan untuk menyiapkan sumbu yang bisa digunakan oleh tubuh bagian kanan setelah gerakan mendarat itu, tumit kanan diputar kearah atas merotasikan pinggul kanan sepenuh tenaga kedepan. Pinggul tetap terletak dalam posisi lebih kedepan dari bahu, ketika berat tubuh dipindahkan dari kaki belakang ke kaki yang terletak di depan dengan maksud untuk menambah kecepatan linier yang sangat diperlukan pada saat melempar. Pada saat itu juga gerakan melempar melepaskan dari yang bertenaga dari tubuh bagian atas harus segera dimulai untuk melawan sisi kiri yang tadi sudah diperkuat.
Gerakan memperkuat sisi kiri tubuh untuk membantu dalam kecepatan gerak bahu kanan yang maksimum sesaat sebelum lengan melempar cakram. Gerakan ini disertai dengan gerakan meluruskan kaki kiri di depan lingkaran ketika cakram di tarik mengelilinginya.
Kaki yang telah memulai mendorong, sekarang telah sepenuhnya lurus sedangkan pinggang bergerak kedepan. Lengan kiri dan bahu menunjang dan menahan dengan kuat, sedangkan lengan kanan dicambukkan melingkar dengan tarikan bahu kanan. Akhirnya kaki kiri diayun kebelakang dan kaki-kakinya saling berputar satu sama lainnya dalam upaya menjaga keseimbangan badan dalam lingkaran. Lemparan cakram dilakukan setinggi bahu dan sejajar pula dengan bahu.
Ada beberapahal yang harus diperhatikan pada waktu melakukan gerakan melempar cakram, Jerver (1986:129-130) menjelaskan sebagai berikut:
Cegah terjadinya penurunan kecepatan dengan segera menggerakan kaki dan pinggul setelah lending dalam posisi lempar. Untuk mencegah lenting yang terlambat dari kaki kiri usahakan agar kaki ini cukup rendah di bagian akhir dari putaran. Cegah rotasi awal dari batas tubuh dengan gerakan kaki dan pinggul kedepan. Kurangnya kekuatan otot di bagian kiri tubuh dapa di koresi dengan penekanan gerak maju kedepan oleh kedua bahu. Juga dapat di tanggulangi dengan secepat mungkin merapatkan tangan kiri yang terlipat pada siku kepinggul kiri. Hindarkan gerakan lengan telampau cepat dengan cara meng ingat-ingat bahwa cakram harus di lempar selambat mungkin. Dengan menekankan siku kepinggul, bahu kiiri tidak akan terjatuh.

Posisi kaki kiri yang menekuk dapat dikoreksi pada saat pelempar yaitu dengan mengangkatnya tepat pada waktu melempar cakram.
Continue reading Lempar Cakram

Thursday, February 12, 2015

, ,

Pengertian Sistem Pemerintahan


Pengertian Sistem Pemerintahan
Dalam hal ini sistem berarti susunan yang teratur  dari pandangan, teori, atau asas tentang pemerintahan Negara.  Sedangkan pemerintahan berarti proses kegiatan memerintah meliputi membuat, menegakkan hukum dalam suatu Negara, yang dilakukan oleh legislative, eksekutif, dan  yudikatif.
Jadi Sistem Pemerintahan, adalah susunan yang teratur dari berbagai kegiatan atau hubungan-hubungan kerja antara lembaga legislative, eksekutif dan yudikatif dalam penyelenggaraan pemerintahan suatu Negara.
 Sistem pemerintahan  Presidensial dan Parlementer di Berbagai Negara
1)    Negara dengan Sistem Pemerintahan Presidensial
A. Amerika Serikat
          Amerika serikat terdiri dari 50 negara bagian bebrbentuk federal. Kekuasaan Legislatif pada parlemen yang disebut Kongres.  Kongres tediri dari 2 kamar yaitu Senat dan badan Perwakilan ( the house of refresentatives).  Senat dipilih di setiap Negara bagian, setiap Negara bagian mempunyai 2 orang wakil di senat, berarti jumlah senator adalah 100 orang.  Masa jabatan senat 6 tahun dan tiap 2 tahun anggotanya diperbaharui sebanyak 2/3.  Sedang badan perwakilan atau the house of refresentatives adalah merupakan perwakilan dari rakyat Amerika serikat dipilih langsung untuk masa jabatan 2 tahun. Kekuasaan Yudikatif ada di tangan Mahkamah Agung (supreme Court) dan bebas dari pengaruh kekuasaan Eksekutif dan Legislatif. Menganut sistem dwipartai yaitu Demokrat dan Republik. Sistem pemilu menganut sistem distrik atau perwilayah Negara bagian. Tiap Negara bagian dipimpin oleh gubernur dan senat daerah  dan badan perwakilan daerah.
B. Pakistan
          Kekuasaan eksekutif di tangan presiden yag beragama islam bersama menteri-menterinya. Menteri pembantu presiden tidak boleh merangkap sebagai anggota legislative. Presiden berwenang membubarkan badan legislative, namun presiden harus mengundurkan diri dalam jangka waktu 4 bulan dan mengadakan pemilu. Presiden dapat dipecat oleh badan legislative apabila melanggar UU.
2)    Negara dengan Sistem Pemerintahan Parlementer
A. Inggris
          Inggris adalah Negara kesatuan ( Unitary State ) dengan sebutan United Kingdom yang terdiri dari England, Scotland, Wales, dan Irlandia Utara. Kepala Negara dipegang oleh raja atau ratu bersifat simbolis dan tidak bisa diganggu gugat. Kekuasaan eksekutif ditangan perdana menteri, memiliki tugas:
1)    Memimpin kabinet yang anggotanya dipilih sendiri.
2)    Membimbing majelis rendah (house of commons).
3)    Menjadi penghubung dengan raja.
4)    Memimpin partai mayoritas.
               Kabinet yang tidak memperoleh kepercayaan dari badan atau parlemen segera meletakkan jabatan.  Perdana Menteri dapat mengadakan pemilihan umum sewaktu-waktu, apabila terjadi mosi tak percaya kepada kinerja kabinet.  Sistem  dua partai besar, yaitu partai konservatif dan partai Buruh.  Parlemen adalah bikameral ( sistem dua kamar ) terdiri dari House of Commons (Majelis rendah) dan House of  Lords (Majelis Tinggi).  Majelis rendah adalah badan Perwakilan rakyat yang anggotanya dipilih oleh rakyat dari partai politik, sedangkan majelis Tinggi adalah perwakilan yang berisi para bangsawan secara turun temurun.
B. Prancis
          Presiden dipilih langsung oleh rakyat, sebagai kepala Negara dengan masa jabatan 7 tahun. Bila terjadi pertentangan antara kabinet dengan legislative, presiden boleh membubarkan legislative. Presiden dapat menyetujui atau tidak terhadap UU yang telah disetujui legislative. Presiden diberikan wewenag untuk bertindak pada masa darurat untuk menyelesaikan krisis.
Catatan : Prancis tidak menerapkan sitem pemerintahan parlementer murni, hanya pemisahan jabatan antara kepala Negara dengan kepala pemerintahan.
C. India
          Kekuasaan eksekutif  terdiri dari presiden sebagai kepala Negara dan menteri-menteri dipimpin oleh seorang perdana menteri. Presiden dipilih oleh badan legislative untuk masa jabatan 5 tahun. Pemerintah dapat menyatakan keadaan darurat, serta pembatasan-pembatasan kegiatan politik dan kegiatan media massa agar tidak mengganggu kegiatan pembangunan.
Kelebihan  dan Kelemahan Sistem Pemerintahan Presidensial dan Parlementer
A. Sistem Presidensial, adalah keseluruhan hubungan kerja antar lembaga negara dalam kekuasan negara, dimana presiden adalah kunci dalam pengelolaan kekuasaan menjalankan pemerintahan negara.
1.     Kelebihannya :
A.   Kedudukan eksekutif stabil sebab tidak tergantung pada legislatif atau parlemen.
B.   Masa jabatan eksekutif jelas, misalnya 4 tahun, 5 tahun atau 6 tahun.
C.   Penyususnan program kabinet mudah karena disesuaikan dengan masa jabatan.
D.   Legislatif bukan tempat kaderisasi eksekutif sebab anggota parlemen tidak boleh merangkap anggota  eksekutif. Karena tidak boleh rangkap jabatan.
E.    Kontrol dan keseimbangan (check and balances) yaitu masing-masing cabang kekuasaan diberi kekuasaan untuk mengontrol cabang kekuasaan lain.
                 2.  Kelemahannya :
A.   Kekuasaan eksekutif diluar pengawasan langsung legislatif sehingga dapat menciptakan kekuasaan mutlak.
B.   Sistem pertanggungjawaban kurang jelas.
C.   Pembuatan kebijakan publik hasil tawar-menawar antara eksekutif dengan legislatif, tidak tegas dan waktu lama.
B. Sistem Parlementer, adalah sistem pemerintahan dimana parlemen atau badan legislatif memiliki peran penting dalam pemerintahan
                1. Kelebihannya :
A.   Pembuatan kebijakan cepat karena mudah terjadi penyesuaian pendapat anatar legislatif dengan eksekutif.
B.   Adanya pengawasan yang kuat dari parlemen terhadap kabinet sehingga kabinet berhati-hati dalam menjalankan pemerintahan.
      2. Kekurangannya :
A.   Kedudukan eksekutif/kabinet tergantung dukungan mayoritas parlemen, sehingga  sewaktu waktu kabinet dapat dijatuhkan oleh parlemen.
B.   Kabinet yang berasal dari partai pemenang pemilu dapat menguasai parlemen.
C.   Parlemen tempat pengkaderan bagi jabatan eksekutif.  Sebab anggota parlemen merangkap menteri atau kabinet.
D.   Parlemen bersifat dominan, sebab merupakan lembaga legislatif tertinggi, memiliki kekuasaan membuat UU, merivisi UU, mencabut UU, menentukan suatu UU itu konstitusional atau tidak.
Ciri-ciri sistem pemerintahan Presidensial dan Parlementer
A. Ciri-ciri sistem Presidensial :
1.     Kekuasaan eksekutif pada presiden sebagai kepala Negara sekaligus kepala pemerintahan.
2.     Kabinet atau dewan menteri dibentuk oleh presiden.  Menteri bertanggung jawab pada presiden.
3.     Presiden tidak dapat membubarkan parlemen atau DPR
4.     Kekuasaan Legislatif pada parlemen atau DPR sebagai lembaga perwakilan.
5.     Para menteri tidak boleh merangkap anggota parlemen atau DPR.
6.     Masa jabatan menteri tergantung pada kepercayaan Presiden.
7.     Peran Legislatif atau Parlemen dengan Eksekutif dibuat seimbang melaui sistem check and balances.
    B. Ciri-ciri sistem Parlementer :
1.     Raja, ratu, presiden, kaisar adalah sebagai kepala Negara dan tidak memiliki kekuasaan pemerintahan hanya berperan sebagai symbol kedaulatan dan keutuhan Negara.
2.     Kepala pemerintahan adalah perdana menteri.
3.     Badan legislative adalah parlemen yang anggotanya dipilih langsung rakyat melalui pemilu.
4.     Eksekutif atau kabinet bertanggung jawab kepada legislative atau parlemen.
5.     Bila terjadi perselisihan antara kabinet dengan parlemen maka kepala Negara menganggap kabinet adalah pihak yang benar dan kepala Negara membubarkan parlemen.  Maka kabinet melaksanakan pemilu dalam tempo 30 hari setelah pembubaran parlemen.
6.     Bila sistem dua partai maka yang menyusun kabinet adalah partai pemenang pemilu, sedangkan bila menagnut sistem banyak partai maka yang menyusun kabinet adalah formatur kabinet secara koalisi.
7.     Masa jabatan menteri atau kabinet tergantung kepercayaan parlemen.  Bila terjadi mosi tak percaya dari parlemen maka cabinet harus mengundurkan diri dari jabatannya.
Continue reading Pengertian Sistem Pemerintahan

Perbedaan Mode Wireless



Perbedaan Mode Wireless


Salah satu media atau interface yang terdapat di dalam mikrotik dan digunakan untuk menghubungkan perangkat network yang satu dengan yang lain diantaranya adalah wireless, ada beberapa mode wireless yang digunakan sesuai dengan fungsinya, Apakah ingin di fungsikan sebagai access point (pemancar)  ataupun di fungsikan sebagai station (penerima), perlu kita ketahui juga bahwa tidak semua mode wireless dapat digunakan didalam bridge network karena tidak semua mode wireless support dengan L2 bridging terutama mode wireless sebagai station (penerima) 

1. Mode Alignment Only 
Mode Alignment only, biasa digunakan untuk membantu pada saat pointing dengan indikator beeper /buzzer pada RouterBoard, sebagai contoh kita bisa menambahkan script dimana ketika mendapatkan sinyal bagus maka beeper akan berbunyi. 

2. Mode AP-Bridge 
Mode AP-bridge digunakan sebagai Access point atau pemancar yang bisa melayani banyak client atau disebut juga dengan PTMP (Point To Multi Point), mode ini bisa kita gunakan untuk network yang sifatnya Routing ataupun Bridging. Untuk menggunakan mode AP-Bridge ini perangkat Routerboard minimal harus memiliki lisensi level 4. 

3. Mode Bridge 
Mode bridge digunakan sebagai Access point atau pemancar akan tetapi hanya bisa melayani  satu client atau disebut juga dengan PTP (Point To Point), mode ini juga bisa kita gunakan untuk network yang sifatnya Routing ataupun Bridging. Untuk menggunakan mode ini perangkat Routerboard  minimal memiliki lisensi level 3, sebagai contoh untuk type produk Embedded 5.xGHz jenis SXT-5HnD yang hanya memiliki license level 3, kita bisa membuat koneksi point to point dengan menggunakan 2 buah perangkat tersebut. 

4. Mode Nstreme dual slave 
Pada dasarnya mekanisme kerja pada interface wireless adalah half duplex, akan tetapi dengan menggunakan mode ini kita dapat mengaktifkan mekanisme kerja full duplex, mode ini  merupakan proprietary didalam wireless mikrotik, tentunya kita juga membutuhkan 2 wireless card dan 2 antenna pada masing-masing wireless router mikrotik 

Description: http://www.mikrotik.co.id/images/artikel/perbedaan-wireless/nstremedual.png  

5. Mode Station 
Wireless dengan Mode station ini digunakan sebagai wireless client/ penerima pada topologi PTP (Point To Point) atau PTMP (Point To Multi Point), wireless Mode station hanya bisa digunakan untuk membentuk network yang sifatnya routing, sehingga mode ini merupakan salah satu mode yang efektif dan  efisian jika pada sisi wireless client/station tidak dibutuhkan bridging 

Description: http://www.mikrotik.co.id/images/artikel/perbedaan-wireless/Wireless-Rout.png  

6. Mode Station-Bridge 
Mode Station-Bridge merupakan mode pada interface wireless yang berfungsi sebagai penerima / client dan support untuk bridge network, perlu di ketahui bahwa untuk mode ini hanya bisa digunakan apabila perangkat AP nya Mikrotik juga. 

 Description: http://www.mikrotik.co.id/images/artikel/perbedaan-wireless/Wireless-bridge.png 

7. Mode Station-Psudobridge 
Mode Station-Pseudobridge merupakan pengembangan dari Mode Station standar, sama-sama menjadikan wireless sebagai penerima/client, perbedaannya adalah pada Mode Station-Pseudobridge support untuk membuat network yang sifatnya Bridge Network, Di dalam penggunaan mode ini terdapat konsekuensi dimana untuk bridging pada L2 tidak bisa dilakukan secara penuh, dalam artian mac-address sebuah perangkat yang berada di bawah perangkat wireless (PC end user) tidak terbaca pada sisi Access Point. 

Description: http://www.mikrotik.co.id/images/artikel/perbedaan-wireless/Wireless-bridge-non.png 

8. Mode Station-Pesudobridge-Clone 
Mode Station-Pseudobridge-Clone hampir sama dengan Mode Station-Pseudobridge yang membedakan adalah didalam mode ini bisa melakukan cloning mac-address, umumnya pada sebuah link wireless, yang terbaca pada sisi Access point adalah mac-address dari interface wireless client, tetapi jika menggunakan Mode Station-Pesudobridge-Clone yang terbaca adalah mac-address dari perangkat yang terhubung ke station (end user), Secara default yang terbaca adalah mac-address pada frame header yang pertama di teruskan, atau bisa ditentukan pada “station-bridge-clone-mac” 

9. Mode Station-WDS 
Mode Station-WDS berfungsi sebagai penerima/client dari sebuah Access Point yang mengaktifkan protocol WDS, Kekurangan protokol WDS adalah penurunan throughput wireless hingga 50%, perlu diketahui bahwa antara vendor yang satu dengan vendor yang lain fungsi WDS belum tentu compatible, begitu juga dengan WDS pada mikrotik. 

10. Mode WDS-Slave 
Mode WDS-Slave ini berfungsi sebagai pemancar (Access Point) sekaligus sebagai penerima (Station) atau disebut juga dengan repeater, Mode ini merupakan salah satu solusi apabila ingin membangun sebuah repeater tetapi perangkat yang dimiliki hanya menggunakan 1 card wireless card. 

Description: http://www.mikrotik.co.id/images/artikel/perbedaan-wireless/WDS.png

Continue reading Perbedaan Mode Wireless