Monday, February 16, 2015

Lempar Cakram

Lempar Cakram

2.4 Pengetian Lempar Cakram
Lempar Cakram adalah suatu nomor yang terdapat dalam Olahraga Atletik yang menggunakan alat tipis seperti piring dengan cara melempar sejauh-jauhnya (PASI, 2004:143), selain itu nomor lempar cakram mempunyai dua gaya yaitu gaya menyamping dan gaya membelakangi.
Dalam kaitannya dengan cabang olahraga atletik, lempar cakram merupakan nomor yang sangat penting artinya bagi perkembangan olahraga tersebut. Hal ini sesuai dengan pendapat Jonath (l988:l11) yang menjelaskan:
Pada semua olimpiade sejak 708 sebelum masehi, lempar cakram merupakan bagian dari panca lomba (pentathlon). Pada permulaannya, cakram terbuat dari batu terupan halus, dan kemudian dari perunggu yang dicor dan ditempa, yang mereka lempar dengan alat lempar seperti itu agaknya ialah para nelayan yang membuat batu gepeng dengan lemparan tertentu yang barkali-kali dapat memantul-mantul di atas permukaan air.
Suatu parmainan yang semua kita kenal, kemudian dilakukan lemparan dari sikap badan menyiku secara khusus dengan badan agak bersandar ke depan. Betapa kecil persamaan lampar cakram pada olimpiade modern pertama di Athena tahun 1896 dengan olahraga unggulan yang sekarang. Seorang atlet Amerika yang barnama Garret, beberapa tahun sebelum olimpiade dimulai, memutuskan untuk ikut serta dalam cakram. Sebab kalau tidak, Amerika tidak ada wakilnya dalam nomor lempar cakram. Meskipun Garret pada waktu itu tidak mengenal gaya Yunani atau gaya antik yang biasa digunakan, ia membuat rekor dunia dengan lemparan 29,15 mater dan mendapat medali emas. Sejak itu bahan yang lebih baik dan latihan atletik dengan spesialisasi yang khusus, telah berhasil memperbaiki rekor dunia sementara ini mencapai lemparan sejauh 71,87 meter oleh Jury Dumsjev dari Uni Soviet.
Pada permulaan abad ke-20 ini orang-orang Amerika, Finlandia dan Swedia mencari teknik lempar yang paling efesien. Uraian tekniknya dari tahun 1925 mamperlihatkan bahwa pada waktu itu juga sudah diketahui unsur-unsur teknik lempar cakram modern. Jonath (l988:l1l) mengatakan bahwa :
Bagian pertama putarannya dilakukan dengan pelan dalam pada itu cakram tetap ada di belakang badan, dan tubuh agak dibungkukkan ke depan. Pada bagian putaran ke dua kecepatan putarannya dipertinggi dengan menggunakan tungkai kanan sampai pada lemparan yang harus mempunyai sifat ekplosif, perubahan putaran yang dulu masih terdiri atas langkah putaran, akhirnya pada sikap permulaan lemparan pada satu atau dua tungkai, loncat keliling yang mengikutinya. Bersama lemparan tanpa tumpuan, itu merupakan variasi yang paling dikenal dalam teknik lempar.
Lebih lanjut Jonath (l988:112) menjelaskan tentang persyaratan bagi atlet pelempar cakram dalam meningkatkan prestasinya:
Terutama atlet yang tinggi dengan tenaga badan yang kuat, banyak kecepatan, daya koordinasi dan rasa keseimbangan yang baik, cocok untuk nomor lempar cakram. Juga lengan yang panjang dan bahu yang bidang (dengan lempar rentangan yang besar) sangat menguntungkan dalammencapai prestasi lempar cakram”.
2.5 Gaya Lempar Cakram
2.5.1 Gaya Menyamping
            Gaya menyamping adalah garakan melempar dengan setengah lemparan dan melempar dengan menyamping arah lempar (sektor), pelempar memulai dengan menyamping arah lemparan, menggunakan metode yang sama dengan yang digunakan sebelumnya untuk mengontrol cakram. Footwork merupakan lemparan berputar dengan menyamping arah lemparan.
Gaya menyamping ini pada umumnya digunakan oleh para atlet pemula dan juga para  pelajar, karena gaya menyamping ini mudah dilakukan dibandingkan dengan gaya membelakangi sehingga akan mudah untuk dilakukan dan diajarkan kepada para siswa. Kelebihan dari gaya menyamping ini mudah dilakukan oleh para atlet, para siswa. Kekurangannya adalah dalam hasil lemparan tidak jauh di bandingkan dengan gaya membelakangi.                  
2.5.2 Gaya Membelakangi
            Gaya Membelakangi adalah gerakan melempar cakram dengan cara membelakanggi arah lempar cakram (Sektor), memutar badan dengan putaran penuh dengan keseimbangan badan kaki kiri sebagai tumpuan akhir. Carr (1997:231) menjelaskan bahwa : ”Atlet memulai dengan membelakangi arah lemparan. Posisi ini menambah putaran hingga 90 derajat”.
Kutipan di atas dapat dijelaskan bahwa atlet mulai melakukan perputaran memindahkan berat badan ke kaki kiri, dan berputar pada jantung kedua telapak kaki hingga kaki kiri mengarah ke arah lemparan. Atlet meneruskan gerakan berputar sambil menggerakakan kaki kanan dan menempatkannya dengan tumit mengarah kearah lemparan. Bagian lemparan lainnya merupakan pengulangan dari lemparan lainnya merupakan pengulangan dari lemparan terdiri dengan langkah mundur.
Gaya membelakangi merupakan suatu gaya yang paling banyak (dominan) digunakan oleh para atlet baik tingkat nasional maupun maupun atlet daerah, selain di lingkungan para atlet gaya ini juga banyak digunakan dalam ruang lingkup pendidikan (formal maupun nonformal) yang merupakan satu gaya untuk menunjang prestasi para siswa.
Adapun kelebihan dari gaya membelakangi ini adalah akan menghasilkan lemparan yang jauh karena saat melakukan lemparan seluruh momentum gerakan tubuh digerakkan sespesifik mungkin pada saat terjadi rotasi pada cakram. Sedangkan kekurangan dari gaya membelakangi ini sangat sulit dilakukan oleh para pelempar karena dalam melakukan gerakan dalam lemparan dengan menggunakan gaya membelakangi ini adanya putaran tubuh yang sangat cepat sehingga sangat sulit dilakukan oleh para atlet pemula, kecuali atlet nasional saja yang mampu melakukan teknik yang benar dalam nomor lempar cakram dengan menggunakan gaya membelakangi.
            Adapun unsur-unsur yang berperan penting dalam nomor lempar cakram antara lain :
  1. Kecapatan (Speed) adalah kemampuan seseorang untuk mengerjakan gerakan berkesinambungan dalam bentuk yang sama dan dalam waktu yang sesingkat mungkin.
  2. Kekuatan (Strehgth) adalah kemampuan seseorang mempergunakan ototnya untuk menerima beban sewaktu bekeraja.
  3. Daya Ledak Otot (Power) adalah kemampuan seseorang untuk mempergunakan kekuatan maksimum yang dikerahkan dalam waktu yang secepatnya.
  4. Kelenturan adalah kemampuan seseorang untuk melakukan mengulurkan tubuhnya sejauh mungkin  ke berbagai arah.
2.6  Dasar-dasar Pengetahuan Latihan Lempar Cakram
            Pengetahuan dasar sangat mendukung di dalam menjalankan program latihan yang bertujuan untuk pencapaian prestasi dalam setiap aktivitas pada setiap cabang olahraga. Dengan dasar pengetahuan yang dimiliki maka dapat diketahui apa yang terjadi dalam melakukan latihan secara tidak sungguh-sungguh baik yang menyangkut dengan organ-organ tubuh maupun terhadap prestasi yang akan dicapai. Dalam setiap cabang olahraga membutuhkan berbagai disiplin ilmu yang merupakan dasar pengetahuan untuk dapat mengetahui sebab dan akibat yang akan timbul dalam melakukan latihan. Untuk dapat berlatih secara baik maka perlu diperhatikan pedoman umum yang merupakan dasar pengetahuan dalam latihan. Lebih lanjut Soekarman (1987:60) mengatakan tentang pedoman umum dasar pengetahuan dalam latihan yaitu:
1. Kekhususan
2. Tambahan beban (overload principle)
3. Hari berat dan santai
4. Latihan dan kelebihan latihan (over training)
5. Latihan dasar dan pencapaian puncak
6. Kembali asal (reversibility)
            Berdasarkan pendapat di atas, perlu diberi tekanan bahwa latihan itu harus khusus untuk meningkatkan semua unsur yang ikut mendukung tercapainya hasil maksimal sesuai dengan cabang olahraga yang diketahui.
            Latihan merupakan faktor yang sangat essensial dan merupakan dasar pembinaan serta pembentukan atlet, baik yang menyangkut dengan persiapan fisik maupun terhadap pencapaian prestasi. Menurut Bompa (1988:143), menyarankan bahwa:
Bentuk dan susunan latihan yang dapat diklasifikasikan dalam tiga bentuk dasar yaitu:
1. Latihan harus mengembangkan fisik umum.
2.  Latihan harus khusus untuk mengembangkan dan meningkatkan kemampuan biomotor.
3. Latihan harus sesuai dengan cabang olahraga.
Kemampuan jasmani dan pengetahuan dasar latihan merupakan salah satu persyaratan penting untuk mencapai prestasi dalam nomor lempar cakram. Sebab tanpa pengetahuan dan tingkat jasmaninya, mustahil atlet dapat mengikuti latihan dengan sempurna. Nomor lempar cakram merupakan cabang olahraga perorangan, yang membutuhkan rencana atau program yang sifatnya terarah kepada latihan mandiri. Latihan tersebut dimaksudkan untuk mempersiapkan atlet untuk berdikari, karena suasana yang demikian akan dijumpai dalam setiap pertandingan atau perlombaan yang diikutinya.
            Bila memikirkan tentang usaha-usaha mendapatkan prestasi maka tidak terlepas dari interaksi sistem tubuh atau pemanfaatan sarana fisik dengan baik dan sempurna. Hal ini dapat dilakukan, bila pengetahuan dasar tentang latihan dan sarana yang digunakan dalam latihan tersebut yaitu fisik telah dimiliki baik oleh atlet maupun pelatih. Sebab tanpa memiliki pengetahuan yang baik, mustahil peningkatan kemampuan prestasi tubuh dapat dilakukan atau dimanfaatkan. Menurut Harsono (1988:32) bahwa: "Untuk dapat berprestasi dengan baik dalam setiap cabang olahraga, pengetahuan dan pengalaman merupakan masalah yang paling mendasar, seperti pengetahuan di bidang ilmu faal, gizi, mekanika olahraga, psikologi dan sebagainya".
            Berdasarkan permasalahan dan pendapat yang dikemukakan di atas, peranan pengetahuan dalam usaha mencapai prestasi harus benar-benar diperhatikan. Sebab untuk mendapatkan dan untuk mempertahankan prestasi, banyak sekali disiplin ilmu pengetahuan yang ikut mendukung serta tidak dapat dipisah-pisahkan antara satu dengan yang lain.
2.7 Tahapan Dasar Gerak Melempar Cakram
            Setiap cabang olahraga, disamping membutuhkan komponen fisik, teknik memegang peranan yang sangat penting dalam usaha mencapai prestasi. Teknik merupakan rangkuman metode yang dipergunakan dalam melakukan gerakan pada suatu cabang olahraga. Peningkatan prestasi dalam olahraga menuntut adanya perbaikan dan pengembangan unsur teknik untuk mencapai tujuannya. Karena teknik selalu berkembang sesuai dengan tuntutan peningkatan prestasi olahraga, atau terjadi sebaliknya sesuai dengan ditemukan teknik-teknik baru. Menurut Siregar (1992:71) bahwa:
Teknik merupakan pelaksanaan suatu kegiatan secara efektif dan rasional, yang mungkin tercapai hasil-hasil baik di dalam pertandingan maupun latihan. Teknik juga merupakan suatu proses gerakan dan pembuktian dalam praktek dengan sebaik mungkin untuk menyelesaikan tugas pasti dalam suatu cabang olahraga seperti teknik lompat, teknik lempar, bola basket dan bola voli.
            Sesuai dengan pendapat di atas, maka jelas bahwa setiap cabang olahraga diperlukan perbaikan dan peningkatan teknik. Teknik dikatakan baik apabila ditinjau dari segi anatomis, fisiologis, mekanika, biomekanika dan mental, terpenuhi persyaratan secara baik serta dapat diterapkan di dalam praktek. Menurut Hamidsyah (1992:71) bahwa:
Peningkatan prestasi dalam cabang olahraga menuntut adanya perbaikan dan pengembangan unsur teknik secara baik untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Analisa teknik dapat digolongkan baik dan tidak bila ditinjau dari segi anatomis, fisiologis dan mekanika, biomekanika dan mental, sebab teknik berkembang sesuai dengan perkembangan ilmu dan teknologi. 
Lempar cakram merupakan salah satu keterampilan gerak yang mempergunakan tubuh yang sangat kompleks dengan menerapkan beberapa prinsip gaya centrifugal yang di kembangkan sejak fase persiapan, yaitu ayunan mendarat, loncat putar ke arah posisis, dan lemparan. Oleh kerena itu seorang pelempar cakram di tuntut untuk memliki penguasaan teknik dasar yang baik.
Nomor lempar cakram membutuhkan beberapa prinsip yang harus di perhatikan oleh atlet dalam melakukan gerakan melempar. Dalam hal ini Abdoellah yang disadur Trianto (1991:74) mengemukakan sebagai berikut:
1.      Sudut lepas benda yang di lemparkan sekitar 40-45 derajat.
2.      Titik lepas benda yang di lemparkan sejauh-jauhnya dari badan.
3.      Kecepatan awalan sebesar mungkin tidak boleh adanya saat berhenti.
4.      Kekuatan lemparan datang dari belakang badannya, yaitu kekuatan yang berasal sejak dari ujung kaki belakang, punggung, perut, bahu, lengan, pergelangan dan jari-jari.
5.      Tekanan benda yang di lemparkan terhadap udara harus sekecil mungkin.
6.      Gerakan melempar harus dilakukan secara eksplosif dan dinamis.
Dewasa ini teknik lempar cakram telah mengalami beberapa perubahan. Hal ini dimungkinkan untuk mendapatkan teknik lempar yang efesien. Jonath (1988:112) mengemukakan sebagai berikut: “Perubahan dalam puaran yang dulu masih terdiri atas langkah-langkah lemparan. Ini diikuti dengan loncat putaran dengan lemparan pada satu atau dua kaki, dan loncat keliling yang mengikutinya. Bersama dengan lemparan tanpa tumpuan itu merupakan variasi yang paling di kenal dalam tehnik lempar”.
Teknik dasar pada nomor lempar cakram terbagi atas beberapa bagianyaitu :
1.      Teknik memegang cakram.
2.      Persiapan dan pengayunan mendatar.
3.      Loncat putar kearah posisi lempar, dan
4.      Teknik lemparan.
Adapun uraian dari teknik dasar nomor lempar cakram tersebut adalah sebagai berikut:
2.7.1 Cara Memegang Cakram
Memegang merupakan salah satu dari bentuk teknik dasar pada nomor lempar cakram. Cara yang biasa di pergunakan dalam dalam memegang cakram adalah dengan sikap kelima jari-jari tangan agak meregang dari permukaan dan tepi cakram tersebut. Pangkal ruas jari tangan, jari manis dan jari kelingking menahan cakram pada bagian tepi bawah. Sedangkang posisi ibu jari tangan berada dalam posisi yang wajar. Telapak tangan tidak dipaksa untuk mencekung dan tepi cakram bagian atas sedikit bersandar pada pada bagian pergelangan tangan. Posisi cakram seperti ini adalah pada sikap permulaan sebelum mengadakan awalan putaran. Jerver (1986:123) menjelaskan bahwa “Pegangan terhadap cakram ini hendaknya sedemikian rupa, sehingga tidak menimbulkan kesulitan sewaktu akan di lemparkan.”
Posisi cakram tidak akan selalu dalam keadaan tetap, tetapi pada saat-saat tertentu akan mengalami sedikit perubahan sesuai dengan sikap lengan sewakatu diayun-ayunkan pada saat melakukan gerakan pendahuluan yaitu persiapan dan penyusunan mendatar.
Jonath (1988:112): Menjelaskan cara-cara memengang cakram, yaitu sebagai berikut : “Jari-jari dan ibu jari agak terpencar dan terletak pada cakram ruang ibu jari memegang erat pinggiran cakram, dan bila tengah bergantung kebawah, sisi atas cakram terletak pada lengan bawah”. Selanjutnya Jerver (1986:123-124) menjelaskan mengenai teknik memegang cakram sebagai berikut :
Cakram harus diletakkan ditengah telapak tangan dengan jari-jari dan ibu jari yang terbesar, posisi jari-jari tidak boleh menimbulkan kejanggalan. Pinggiran dari cakram hendaknya terletak pada patahan sendi pertama pada keempat jari-jari tangan tersebut.
2.7.2 Persiapan Dan Pengayunan Mendatar
Persiapan dan pengayunan mendatar merupakan salah satu faktor yang penting dalam lempar cakram. Tujuan dari persiapan dan pengayunan mendatar ini dikemukakan oleh Jerver (1986:122) yaitu: “Untuk memperoleh kecepatan melempar yang maksimum”
Gerakan persiapan dan pengayunan mendatar dilakukan dengan cara yaitu seorang pelempar mengambil sikap awal dibelakang lingkaran dengan punggung mengarah kearah sektor lemparan (membelakanggi sektor lemparan) kemudian ia melakukan beberapa kali ayunan pendahuluan untuk membiasakan lengannya dalam keadan seimbang. Tubuh dan lengan lainnya mengikuti gerak pada saat berat badan di pindah ke kaki lain. Apabila cakram telah mencapai titk ayun terjauh dibelakang (tubuh berputar ke belakang), maka gerak berputar dan gerak menyilang lingkaran segera dimulai.
Jonath (1988 :113) menjelaskan sebagai berikut :
Ada dua macam gerak pengayunan mendatar,yang dikenbangkan lebih lanjut secara perorangan: 1) Cakram terletak pada ketinggian pada bahu kiri diatas lengan kiri. Tangan lempar diletakkan diatasnya, dan lengan lempar membuka gerak ayun dengan cakramnya dalam bidang miring kebawah kekanan luar dan ke kanan bawah; 2) Lengan lempar berayun dari gerak didepan badan kepinggul kiri. Dalam pada itu, lengan lempar diputar dengan telapak tangan keatas dari situ lengan lempar dengan cakramnya dalam bidang horizontal kekanan luar dan kekanan belakang.
2.7.3 Loncat Berputar Kearah Posisi Lempar
Loncat berputar kearah posisi lempar merupakan fase yang paling penting dalam nomor lempar cakram karena pada fase ini terjadi perpindahan kecepatan rotasi ke kecepatan linier dimana kecepatan linier ini merupakan hasil kali dari kecepatan rotasi dan panjang jari-jari. Sehingga dengan demikian untuk menghasilkan lemparan yang jauh, maka kecepatan rotasi haris di perbesar
Fase ini di mulai apabila cakram telah mencapai titik ayun terjauh di belakang (tubuh berputar ke kanan). Putaran di mulai dari bagian badan bawah. Kaki berputar membawa lutut berputar dalam satu arah. Pada saat yang sama mulailah gerakan rotasi tubuh yang akan di ikuti oleh lengan dan cakram. Sekarang gerak melintang dimulai, kaki kanan pertama sekali meninggalkan tanah dan kemudian kaki kiri mendorong ke arah lemparan. Sedang kaki kanan sedikit bengkok melengkung dalam lingkaran, dari kanan kekiri dan kedepan. Pada waktu bergerak melintang lingkaran, pinggang bergerak lebih dahulu dari bahu, sehingga terjadilah putaran antara badan bagian atas dan bawah lengan pelempar di ikuti dengan yang lain dengan posisi setengah jongkok dan di lipat kedada setinggi bahu, tetapi si pelempar melihat kepalanya mengarah ketujuan lemparan.
Selanjutnya sebuah dorongan rendah menyilang lingkaran dan pelempar mendarat pada sol kaki kanan, yang di putar kekiri dan lebih kurang di titik pusat lingkaran tersebut, kaki kanan meneruskan gerak pertamanya sedangkan kaki kiri segera datang ke tanah pada saat kaki dan sedikit kekiri garis lemparan. Sampai di sini kedua kaki tetap di bengkok. Namun sejak kaki kiri menyentuh tanah tungkai kiri hampir sepenuhnya di lurus kan senentara itu lutut kanan dan pingang terus berputar cepat kearah lemparan. Menarik badan bagian atas berputar bersama, pada saat ini lengan kiri mulai membuka kesamping dan lengan kanan di ayun dengan cepat dalam lengkungan lebar dan secara bersamaan di tarik sedikit keatas.
Kaki yang mulai mendorong telah sepenuhnya lurus, sedangkan pinggang bergerak kedepan dan tubuh serta bahu menyesuaikan putaran kedepan. Lengan kiri dan bahu menahan dengan kuat, sedangkan lengn yang di cambuk kan melingkar dengan tarikan bahu kanan dan selesainya pelurusan kaki akhirnya kaki di ayun kebelakang dan kakinya berputar satu sama lain dalam rangka tetap menjaga keseimbangan badan dalam lingkaran.
2.7.4 Cara lemparan
Gerakan melempar dilakukan ada saat pelempar menyesuaikan gerakan ayunan pendahuluan, yaitu pada saat cakram mencapai titik ayun terjauh di belakang. Berat badan pelempar berada diatas kaki kanan, tubuh bagian atas serta lengan yang akan melempar berputar kebelakang untuk mempertahankan gerakan tubuh, kaki kiri harus segera menyentuh tanah setelah kaki kanan mendarat. Kaki kiri di letakan sedikit kesamping dengan tujuan untuk menyiapkan sumbu yang bisa digunakan oleh tubuh bagian kanan setelah gerakan mendarat itu, tumit kanan diputar kearah atas merotasikan pinggul kanan sepenuh tenaga kedepan. Pinggul tetap terletak dalam posisi lebih kedepan dari bahu, ketika berat tubuh dipindahkan dari kaki belakang ke kaki yang terletak di depan dengan maksud untuk menambah kecepatan linier yang sangat diperlukan pada saat melempar. Pada saat itu juga gerakan melempar melepaskan dari yang bertenaga dari tubuh bagian atas harus segera dimulai untuk melawan sisi kiri yang tadi sudah diperkuat.
Gerakan memperkuat sisi kiri tubuh untuk membantu dalam kecepatan gerak bahu kanan yang maksimum sesaat sebelum lengan melempar cakram. Gerakan ini disertai dengan gerakan meluruskan kaki kiri di depan lingkaran ketika cakram di tarik mengelilinginya.
Kaki yang telah memulai mendorong, sekarang telah sepenuhnya lurus sedangkan pinggang bergerak kedepan. Lengan kiri dan bahu menunjang dan menahan dengan kuat, sedangkan lengan kanan dicambukkan melingkar dengan tarikan bahu kanan. Akhirnya kaki kiri diayun kebelakang dan kaki-kakinya saling berputar satu sama lainnya dalam upaya menjaga keseimbangan badan dalam lingkaran. Lemparan cakram dilakukan setinggi bahu dan sejajar pula dengan bahu.
Ada beberapahal yang harus diperhatikan pada waktu melakukan gerakan melempar cakram, Jerver (1986:129-130) menjelaskan sebagai berikut:
Cegah terjadinya penurunan kecepatan dengan segera menggerakan kaki dan pinggul setelah lending dalam posisi lempar. Untuk mencegah lenting yang terlambat dari kaki kiri usahakan agar kaki ini cukup rendah di bagian akhir dari putaran. Cegah rotasi awal dari batas tubuh dengan gerakan kaki dan pinggul kedepan. Kurangnya kekuatan otot di bagian kiri tubuh dapa di koresi dengan penekanan gerak maju kedepan oleh kedua bahu. Juga dapat di tanggulangi dengan secepat mungkin merapatkan tangan kiri yang terlipat pada siku kepinggul kiri. Hindarkan gerakan lengan telampau cepat dengan cara meng ingat-ingat bahwa cakram harus di lempar selambat mungkin. Dengan menekankan siku kepinggul, bahu kiiri tidak akan terjatuh.

Posisi kaki kiri yang menekuk dapat dikoreksi pada saat pelempar yaitu dengan mengangkatnya tepat pada waktu melempar cakram.

1 comment:

  1. Perkenalkan, saya dari tim kumpulbagi. Saya ingin tau, apakah kiranya anda berencana untuk mengoleksi files menggunakan hosting yang baru?
    Jika ya, silahkan kunjungi website ini www.kumpulbagi.com untuk info selengkapnya.

    Di sana anda bisa dengan bebas share dan mendowload foto-foto keluarga dan trip, music, video, filem dll dalam jumlah dan waktu yang tidak terbatas, setelah registrasi terlebih dahulu. Gratis :)

    ReplyDelete